Langsung ke konten utama

Malaikat Tak Bersayap



“ Malaikat Tak Bersayap “, Sebutan yang menurut saya pantas disematkan untuk menggambarkan makhluk ciptaan Allah SWT yang dianugrahkan kasih sayang dan pengorbanan yang begitu besar untuk para insan manusia yang diamanahkan kepadanya yang bernama “ IBU “. Setiap pikirannya dikerahkan untuk membesarkan kita agar menjadi anak yang hebat. Dan dirinya tidak pernah berpikir untuk mendapatkan balasan atas jerih payahnya dalam mendidik dan membesarkan kita. Dirinya hanya ingin melihat senyuman yang tergambar diwajah kita.

Kasih sayang orang tua sepanjang masa dan kasih sayang anak sepanjang galah, pepatah itu menggambarkan bahwa kasih sayang orang tua terutama ibu itu tidak terhingga dan tidak dapat kita balas walaupun dengan banyaknya materi yang kita berikan kepada mereka.

Saya teringat dengan hadits Nabi SAW,  Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Dari hadits itu menunjukan bahwa kita harus berbakti tiga kali lipat terhadapa ibu daripada ayah. Karena Rasulullah SAW itu berkata sebanyak tiga kali ibumu  setelah itu satu kali ayahmu. Memang dalam hal ini pengorbanan ibu lebih besar, mulai dari mengandung kita selama 9 bulan, melahirkan kita dengan penuh rasa sakit dan membesarkan dengan susah payah untuk menjadikan anaknya sukses dunia dan akhirat.
***
Postingan ini saya dedikasikan dan persembahkan untuk kedua orang tua saya khususnya Mama saya, bukan karena dalam menyambut hari IBU. Karena menurut saya berbakti untuk kedua orang tua khususnya ibu, tidak hanya pada tanggal 22 Desember  tapi disetiap saat kita.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Mama saya yang telah membesarkan saya hingga  sebesar ini tapi saya masih belum bisa membahagiakannya bahkan sebaliknya selalu menyusahkan. Kasih sayangnya tidak akan pernah  akan terbalaskan tapi saya akan selalu berusaha untuk membahagiakannya dunia dan akhirat, Insya Allah.

Kita mengetahui, setiap apa yang kita lakukan akan berpengaruh dengan orang tua kita. Setiap amal yang kita lakukan akan menolong mereka di akhirat, tapi setiap dosa yang kita lakukan, orang tuapun akan dimintai pertanggung jawabannya diakhirat. Maka dari itu jagalah sikap kita, jika memang kita menyayangi kedua orang tua kita. Jika kita mengaku sayang kepada kedua orang tua kita, maka taatlah kepada Allah SWT, walaupun kita tidak bisa membahagiakan mereka di dunia, Insya Allah kita akan dapat membahagiakan orang tua kita di akhirat. ( Aamiin )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikhlas Itu Bikin Kecanduan

Jika kita sudah ikhlas, maka Allah akan membuat kecanduan pada dirinya    Itu kata-kata ustadz Ahmad Zarkasih.Lc yang masih saya ingat sampai sekarang. Apa sih maksudnya ? jika Allah merasakan diri kita sudah ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, maka Allah sendirilah yang membuat kecanduan atau ketagihan kepada kita untuk terus beribadah kepada-Nya. Amal yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan, kendati sedikit Allah itu menyukai amalan yang sedikit tapi berkelanjutan. Misalkan, kita membaca Al-Qur’an itu dalam sehari hanya bisa membaca 1 lembar saja itu lebih baik jika dilakukan terus-menerus setiap harinya. Daripada kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 1 kali dibulan Ramadhan. Tapi, itu hanya berlangsung dibulan itu saja, dibulan-bulan selanjutnya kita tidak membaca Al-Qur’an. Lebih baik pula jika kita mengkhatamkan ilmu tajwid dahulu, sebelum kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 1 bulan. Kenapa ? ditakutkan kita mentargetkan bisa khatam dalam 1 bulan, bac...

[ Review ] Buku Sejarah Yang Terpendam

Bagi teman-teman yang sedang bingung untuk membeli buku yang bagus dan sesuai keinginan mengenai Nabi Muhammad SAW, berjudul apa ? Dan mungkin sebagian teman-teman sudah ada yang pernah mendengar atau melihat buku “ Sejarah Yang Terpendam”  Karya Drs. Muhsin Al Jufri ini, tapi masih belum sempat membelinya atau masih ragu membelinya karena takut bukunya itu tidak bagus.  Semoga Review buku “ Sejarah Yang Terpendam “ ini dapat membantu teman-teman yang masih dilema untuk membeli buku mengenai Nabi SAW  dan sekaligus membantu teman-teman yang penasaran dengan buku ini.  Oke Langsung  ke TKP  :D , Buku yang ditulis oleh penulis kelulusan Sarjana Sastra Asia Barat ( Arab ) dan UNPAD Bandung, kelahiran Solo, 6 Juli 1966 yang selain aktif di organisasi Sosial-Dakwah Fosmil ( Forum Silaturahmi Minggu Legi ), Pemimpin redakis majalah Adzan yang dikeluarkan oleh Fosmil tersebut, serta salah satu penulis rubrik Mimbar Jum’at, di Harian Solopos. Beliau juga berwiraswa...

Farid Namanya

Instagram ( @rivasakina ) Namanya Farid, tapi para santri biasa memanggilnya ” Fawid “. Mungkin, Karena dia belum bisa menyebutkan huruf ” R ” . Sehingga, seringkali dia menyebutkan namanya sendiri dengan sebutan Fawid. Akhirnya para santri pun mengikutinya. Anak sholeh ini sering menjadi hiburan untuk para santri. Mulai dari sering bawa mainan, terus ngajak main santri yang lagi sibuk sama tugasnya. Nyanyi-nyanyi. Dan tidak jarang juga, langsung ngajak ngobrol santri dengan topik yang bisa dibilang ” Random “. Namanya juga anak-anak, hhe  Namun, anak ini termasuk anak yang sholeh dan cerdas. Tentunya tidak lepas dari didikan tangan dingin kedua orang tuanya yang sholeh dan sholehah. Yang saat ini mereka juga bisa dibilang menjadi orang tua kedua kami ( para santri ) disni. Semoga Allah menjadikan mereka keluarga yang sakinah Mawadah Warohmah. Aamiin