Langsung ke konten utama

Siapa Yang Menanam, Dia Yang Akan Menuai


Imam As-Syafi’i pernah menulis
“ Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras. Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang. Barang siapa yang menharapkan ketinggian tanpa rasa letih maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil. Engkau mengharapkan kejayaan lantas pada malam hari hanya tidur saja? Orang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan.
Iyah, Siapa yang menanam dia yang akan menuai, itulah sunatullah dalam hidup ini. Para petani pun untuk mendapatkan beras harus menanam padi terlebih dahulu. Beberapa padi yang ditanam pun akan menghasilkan berkarung-karung beras. Jika ditanam dengan ulet dan kerja keras.

Kitapun pasti pernah merasa iri dengan para direktur perusahaan yang mendapatkan gaji 100 Jt/bulan dan fasilitas yang mewah dari perusahaannya. Serta merasa iri pula kepada para pembisinis yang sudah beromzet beratus-ratus juta dalam kurun waktu beberapa bulan.

Tapi apakah kita pernah berpikir ? apa yang telah mereka lakukan sebelumnya untuk mencapai itu semua. Keuletan, ketekunan serta kerja keraslah yang mereka tanam, dan akhirnya mereka menuai kesuksesan.

Jika ada pertanyaan, Bekerja keras atau sukses dahulu ? memanen atau menanam dahulu ? mendapatkan  gaji besar setelah lama bekerja keras atau  mendapatkan gaji besar tanpa bekerja keras ?. Pasti kita tahu jawabannya, semua itu butuh proses untuk mencapai kesuksesan.

Maka dari itu yuk sama-sama kita menanam dengan giat dari sekarang. Kerja keras yang kita tanam Insya Allah akan kita tuai saat kita dewasa.

Bagamaina mungkin kita bisa mencapai cita-cita yang tinggi, jika kita tidak bekerja keras pula untuk meraihya ? ^_^


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikhlas Itu Bikin Kecanduan

Jika kita sudah ikhlas, maka Allah akan membuat kecanduan pada dirinya    Itu kata-kata ustadz Ahmad Zarkasih.Lc yang masih saya ingat sampai sekarang. Apa sih maksudnya ? jika Allah merasakan diri kita sudah ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, maka Allah sendirilah yang membuat kecanduan atau ketagihan kepada kita untuk terus beribadah kepada-Nya. Amal yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan, kendati sedikit Allah itu menyukai amalan yang sedikit tapi berkelanjutan. Misalkan, kita membaca Al-Qur’an itu dalam sehari hanya bisa membaca 1 lembar saja itu lebih baik jika dilakukan terus-menerus setiap harinya. Daripada kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 1 kali dibulan Ramadhan. Tapi, itu hanya berlangsung dibulan itu saja, dibulan-bulan selanjutnya kita tidak membaca Al-Qur’an. Lebih baik pula jika kita mengkhatamkan ilmu tajwid dahulu, sebelum kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 1 bulan. Kenapa ? ditakutkan kita mentargetkan bisa khatam dalam 1 bulan, bac...

[ Review ] Buku Sejarah Yang Terpendam

Bagi teman-teman yang sedang bingung untuk membeli buku yang bagus dan sesuai keinginan mengenai Nabi Muhammad SAW, berjudul apa ? Dan mungkin sebagian teman-teman sudah ada yang pernah mendengar atau melihat buku “ Sejarah Yang Terpendam”  Karya Drs. Muhsin Al Jufri ini, tapi masih belum sempat membelinya atau masih ragu membelinya karena takut bukunya itu tidak bagus.  Semoga Review buku “ Sejarah Yang Terpendam “ ini dapat membantu teman-teman yang masih dilema untuk membeli buku mengenai Nabi SAW  dan sekaligus membantu teman-teman yang penasaran dengan buku ini.  Oke Langsung  ke TKP  :D , Buku yang ditulis oleh penulis kelulusan Sarjana Sastra Asia Barat ( Arab ) dan UNPAD Bandung, kelahiran Solo, 6 Juli 1966 yang selain aktif di organisasi Sosial-Dakwah Fosmil ( Forum Silaturahmi Minggu Legi ), Pemimpin redakis majalah Adzan yang dikeluarkan oleh Fosmil tersebut, serta salah satu penulis rubrik Mimbar Jum’at, di Harian Solopos. Beliau juga berwiraswa...

Farid Namanya

Instagram ( @rivasakina ) Namanya Farid, tapi para santri biasa memanggilnya ” Fawid “. Mungkin, Karena dia belum bisa menyebutkan huruf ” R ” . Sehingga, seringkali dia menyebutkan namanya sendiri dengan sebutan Fawid. Akhirnya para santri pun mengikutinya. Anak sholeh ini sering menjadi hiburan untuk para santri. Mulai dari sering bawa mainan, terus ngajak main santri yang lagi sibuk sama tugasnya. Nyanyi-nyanyi. Dan tidak jarang juga, langsung ngajak ngobrol santri dengan topik yang bisa dibilang ” Random “. Namanya juga anak-anak, hhe  Namun, anak ini termasuk anak yang sholeh dan cerdas. Tentunya tidak lepas dari didikan tangan dingin kedua orang tuanya yang sholeh dan sholehah. Yang saat ini mereka juga bisa dibilang menjadi orang tua kedua kami ( para santri ) disni. Semoga Allah menjadikan mereka keluarga yang sakinah Mawadah Warohmah. Aamiin