Langsung ke konten utama

Malu


Saya menulis judul itu berawal dari kisah saya bertemu dengan salah satu jama’ah Majelis Rasulullah SAW. Seseorang  yang membuat saya terus berintropeksi diri atas ucapan yang selalu saya ucapkan akan kecintaan saya terhadap sayyidina Muhammad SAW.

Awal pertemuan saya dengan beliau, saat sedang menunggu TransJakarta di halte TransJakarta kota. Pada waktu saya melihat beliau dengan menggunakan sorban di kepalanya seperti kebanyakan jama’ah Majelis Rasulullah SAW menghampiri saya dan bertanya “ Mau ke monas yah ? “ .  “ Iya, mau ke monas juga  ? “ jawab saya sambil bertanya kembali kepada beliau. “ Iyah, Bareng aja “ ujar beliau. “ Oke “ jawab saya mensetujui usul beliau.

Perbincangan saya pun di mulai saat berada di dalam TransJakarta. “ Jama’ah darimana yah ? “ tanya saya kepada beliau karena saking penasarannya saya kepada beliau. “ Dari Sunter “ Jawabnya. “ Lumayan jauh juga yah, ? “ tanya saya lagi. “ Iyah, kecintaan ane kepada sayyidina Muhammad SAW lah yang membuat ane gak kenal dekat maupun jauh, “ kira-kira begitu beliau menjawab. “ Saat ini nih dimana do’a kita di ijabah oleh Allah SWT dengan banyaknya yang hadir dan para malaikat yang akan ikut mengaminkan juga “ Lanjut beliau. Saya pun tertegun dengan jawaban beliau. Saya pun bertanya lagi “ terus pulangnya bagaimana ? kan kalau malam angkotnya udah gak ada ? “. “ Bukannya busway masih ada yah ? “ jawab beliau. “ Tenang aja, pasti ada lah jalannya” melanjutkan jawaban yang tadi “. “ Antum tau gak Crew Majelis Rasulullah SAW itu siap loh nganterin jama’ah yang belum pulang kemana aja” Lanjut beliau. “ Masa ? iyah yah ? ana baru tau.. berarti kita gak usah takut untuk gak bisa pulang yah ? “ Tanya saya. “ Yaps “ meyakinkan saya.

Beliau pun melihat para jama’ah Majelis Rasulullah SAW yang menggunakan motor yang sudah mulai berdatangan dengan membawa panji-panji Majelis Rasulullah SAW. “ Masya Allah, mereka datang itu dari mana-mana buat datang di majelis ini “ beliau memuji para jama’ah. “ Apalagi Crew Majelis Rasulullah SAW yang datang paling awal dan pulang paling akhir buat persiapin acara ini “ ujar saya sebagai tambahan pujian beliau terhadap jama’ah.

Dan dari perbincangan saya dengan beliau, saya malu rasanya. Kenapa ? karena jika ada jadwal majelis pada malam hari dan saya tidak mendapat tebengan untuk pergi ke majelis, niat saya untuk ke majelis menjadi goyah karena di takutkan pulang majelis itu tidak ada angkot untuk pulang ke rumah. Tapi bagaimana dengan beliau ? beliau begitu semangat untuk mendatangi majelis walaupun sendirian dan kemungkinan tidak ada angkot untuk pulang karna sudah larut malam. Dan mungkin banyak juga jama’ah yang lain seperti beliau .

Dan saya selalu terkagum-kagum kepada mereka-mereka yang istiqomah ke majelis. Walapun kita tidak tahu niatan kita semua datang ke majelis ini karna apa ? cuman ikut-ikutan, ingin main saja, ingin di lihat sebagai anak majelis ataupun niatan kita murni karna Allah SWT dan Rasulullah SAW ? tapi jika kita lihat dari sisi positifnya mereka datang ke majelis itu lebih baik daripada datang ke tempat yang enggak-enggak. Dengan keberkahan majelis ini bisa saja membuat niatan kita yang awalnya bukan karena Allah SWT dan Rasulullah SAW akan berubah menjadi para tentara Allah SWT dan para pembantu dakwah syiar Nabi Muhammad SAW . 

Syukron sudah membaca , dan semoga pengalaman saya ini membawa manfaat untuk semua

( Sumber Gambar : Google )

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikhlas Itu Bikin Kecanduan

Jika kita sudah ikhlas, maka Allah akan membuat kecanduan pada dirinya    Itu kata-kata ustadz Ahmad Zarkasih.Lc yang masih saya ingat sampai sekarang. Apa sih maksudnya ? jika Allah merasakan diri kita sudah ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, maka Allah sendirilah yang membuat kecanduan atau ketagihan kepada kita untuk terus beribadah kepada-Nya. Amal yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan, kendati sedikit Allah itu menyukai amalan yang sedikit tapi berkelanjutan. Misalkan, kita membaca Al-Qur’an itu dalam sehari hanya bisa membaca 1 lembar saja itu lebih baik jika dilakukan terus-menerus setiap harinya. Daripada kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 1 kali dibulan Ramadhan. Tapi, itu hanya berlangsung dibulan itu saja, dibulan-bulan selanjutnya kita tidak membaca Al-Qur’an. Lebih baik pula jika kita mengkhatamkan ilmu tajwid dahulu, sebelum kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 1 bulan. Kenapa ? ditakutkan kita mentargetkan bisa khatam dalam 1 bulan, bac...

[ Review ] Buku Sejarah Yang Terpendam

Bagi teman-teman yang sedang bingung untuk membeli buku yang bagus dan sesuai keinginan mengenai Nabi Muhammad SAW, berjudul apa ? Dan mungkin sebagian teman-teman sudah ada yang pernah mendengar atau melihat buku “ Sejarah Yang Terpendam”  Karya Drs. Muhsin Al Jufri ini, tapi masih belum sempat membelinya atau masih ragu membelinya karena takut bukunya itu tidak bagus.  Semoga Review buku “ Sejarah Yang Terpendam “ ini dapat membantu teman-teman yang masih dilema untuk membeli buku mengenai Nabi SAW  dan sekaligus membantu teman-teman yang penasaran dengan buku ini.  Oke Langsung  ke TKP  :D , Buku yang ditulis oleh penulis kelulusan Sarjana Sastra Asia Barat ( Arab ) dan UNPAD Bandung, kelahiran Solo, 6 Juli 1966 yang selain aktif di organisasi Sosial-Dakwah Fosmil ( Forum Silaturahmi Minggu Legi ), Pemimpin redakis majalah Adzan yang dikeluarkan oleh Fosmil tersebut, serta salah satu penulis rubrik Mimbar Jum’at, di Harian Solopos. Beliau juga berwiraswa...

Farid Namanya

Instagram ( @rivasakina ) Namanya Farid, tapi para santri biasa memanggilnya ” Fawid “. Mungkin, Karena dia belum bisa menyebutkan huruf ” R ” . Sehingga, seringkali dia menyebutkan namanya sendiri dengan sebutan Fawid. Akhirnya para santri pun mengikutinya. Anak sholeh ini sering menjadi hiburan untuk para santri. Mulai dari sering bawa mainan, terus ngajak main santri yang lagi sibuk sama tugasnya. Nyanyi-nyanyi. Dan tidak jarang juga, langsung ngajak ngobrol santri dengan topik yang bisa dibilang ” Random “. Namanya juga anak-anak, hhe  Namun, anak ini termasuk anak yang sholeh dan cerdas. Tentunya tidak lepas dari didikan tangan dingin kedua orang tuanya yang sholeh dan sholehah. Yang saat ini mereka juga bisa dibilang menjadi orang tua kedua kami ( para santri ) disni. Semoga Allah menjadikan mereka keluarga yang sakinah Mawadah Warohmah. Aamiin